Burung Burung Manyar Dapat Dibaca Sebagai Bentuk Proyek Pasca Kolonial Novel Ini Berusaha Untuk Mencari Penyimpangan Yang Terjadi Dalam Penulisan Sejarah Revolusi Indonesia Sejarah Dalam Novel Burung Burung Manyar Diceritakan Secara Mengalir Dengan Beberapa Masukan Anekdot Sejarah Tidak Disampaikan Dengan Nada OtoriterSejarah Dicerita Melalui Kisah Cinta Seorang Yang Bekerja Mendukung Kemerdekaan Indonesia, Larasati, Dan Satadewa Alias Teto, Orang Indonesia Yang Bekerja Dalam Angkatan Perang BelandaMenjelang Akhir Novel, Terdapat Kejutan Yang Menggelitik Teto [Y.
B.
Mangunwijaya] ✓ Burung-Burung Manyar [human-development PDF] Ebook Epub Download Å Atau Terbangkitkan Jiwa Nasionalismenya, Dengan Menjadi Relawan Membongkar Kecurangan Perusahaan Tempatnya Bekerja Yang Merugikan Indonesia Burung Burung Manyar Sebuah roman cinta, patriotisme, dan hakikat hidup manusia Saya suka, bagaimana Romo Mangun membawakan sejarah sebelum, pasca, dan sesudah kemerdekaan Sejarah dituturkan secara mengalir mengikuti roman percintaan Teto dan Antik Dari buku ini pula, saya jadi ngeh , tidak semua rakyat benar benar menginginkan kemerdekaan Para petani misalnya hal yang berkeluh tentang jaman revolusi yang serba kacau, para tentara yang membunuh, memperkosa, serta menjarah hasil hasil pertanian maupun ternak mereka Dengan alasan demi revolusi kemerdekaan Para bandit bandit yang malah lebih sering mengacu daripada ikut berperang melawan KNIL.
Sementara di sisi roman percintaan, Romo Mangun benar benar mampu membangun alur cerita yang bikin saya galau Hahaha Apa jadinya saya jika jadi Teto ataupun jadi kapten Verbruggen Di sisi hakikat hidup manusia, tergambar jel Ini bukan hanya tentang cinta Ini manusia Bahwa manusia memiliki sifat yang tergambarkan oleh judul judul babnya dari tulisan Romo Mangun ini Masa transisi, masa pasca kemerdekaan Anak harimau mengamuk Elang elang menyerang Hingga burung kul mendamba Untuk siapa Teto berjuang Untuk negaranya kah Bukan, ia membenci sang proklamator Ia hanya berjuang untuk dirinya sendiri Karena ia benci Jepang, yang telah merenggut ayah dan ibunya darinya Teto yang kehilangan keluarga, membuat dirinya menjadi pribadi yang dingin.
Kasihan Teto, diombang ambing antara pilihannya sendiri di KNIL dan cinta platonisnya pada Atik Dia memilih meninggalkan Atik, tapi setiap saat selalu didera akan penyesalannya Mungkinkah ini memang kesombongan laki laki yang sulit untuk mengakui adanya cinta Selalu diulur



Ke.
pa.
rat Keparat karena buku ini sungguh benar benar bagus dan menyentuh Keparat karena saya menitikkan air mata di akhir buku Keparat karena saya baru baca buku ini sekarang Burung Burung Manyar merupakan roman kehidupan Setadewa, seorang anak kolong yang dibesarkan oleh ide ide kebencian terhadap Jepang, dan kecintaan yang berlebihan dengan Belanda, dan menghujat kemerdekaan republik Indonesia Ia jatuh cinta dengan Atik yang sayangnya, menjadi sekretaris Sutan Syahrir, yang tentu saja mendampakan kemerdekaan Republik Indonesia Keduanya berpisah, tetapi akhirnya bertemu kembali, dipenuhi dengan sesalan Setadewa Huhuhu Ini benar benar bagus Narasi narasi yang ditulis oleh Pak Romo Mangunwijaya benar benar mantap dan menohok, beberapa kali menyentuh saya Pergolakan batin Setadewa begitu terasa hingga saya bisa bersimpati dengan tokoh ini meskipun ia sangat membenci berd Buku roman percintaan yang sangat indah, romantis, dewasa, toleran dan penuh suasana humor yang njawani Cinta dalam hal ini dikemas menjadi sebuh perjuangan untuk membahagiakan orang yang dikasihi Adegan pertemuan antara Teto dan Ati di beranda rumah seorang bangsawan Solo, bagiku merupakan adegan paling romantis sedunia yang pernah ada dari buku buku yang pernah kubaca ataupun dari film yang pernah kutonton Aku kagum sama beliau seperti kekaguman Gus Dur dalam joke nya Romo Mangun ini novel2nya banyak cerita tentang perempuan, walau beliau nggak pernah menyentuh perempuan he.
.
he.
Aku baca buku ini lebih dari 5 kali namun tidak bosan dan aku senantiasa menemukan mutiara kehidupan baru ketika membacanya Menurutku buku ini masterpiecenya karya Romo Mangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *